Keracunan Makanan: Penyebab dan cara mengatasinya.

Keracunan Makanan: Penyebab dan cara mengatasinya. Makan adalah salah-satu cara untuk bertahan hidup. Tubuh membutuhkan nutrisi untuk menjalankan aktivitasnya. Salah satu cara untuk mendapatkan nutrisi adalah dengan memakan makanan yang baik, sehat dan bergizi. Tapi kadang, tanpa kita sadari kita terdedah pada makanan yang tidak sehat dan higienis sehingga menyebabkan sakit. Sakit karena makanan yang kita makan biasa di sebut dengan istilah Keracunan Makanan.

Keracunan makanan bukan berarti dalam makanan ada racunnya, ada yang memberi racun pada makanan, atau sesuatu yang bersifat kriminal. Bukan seperti itu! Keracunan makanan yang kami maksud di sini adalah memakan makanan yang telah terkontaminasi zat asing sehingga menyebabkan sakit. Kasus keracunan makanan masih sering di temui di Indonesia. Media tanah air sering memberitakan kasus keracunan makanan, baik yang bersifat pribbadi  ataupun massal. Pada kebanyakan kasus, keracunan makanan terjadi karena memakan makanan yang sudah basi, tidak higienis, tidak di masak benar, ataupun karena proses penyimpanan yang tidak baik.

Makanan yang tidak di simpan dengan benar, sudah basi, dan tidak di masak dengan benar akan mengundang mikroba. Mikroba-mikroba tersebut akan beraktivitas di atas makanan dan menghasilkan racun. Begitu makanan bermikroba kita makan dan medarat di saluran pencernaan, maka mikroba akan akan memperbanyak diri dan menghasilkan racun. Racun yang di hasilkannya akan mengiritasi dan merusak dinding saluran pencermaan. Dengan cara itulah keracunan makanan terjadi.


Tanda dan Gejala keracunan Makanan

Sakit yang di sebakan oleh keracunan makanan tidak terjadi secara seketika. Biasanya ada jeda waktu beberapa jam sebelum akhirnya muncul tanda-tanda dan gejala yang merujuk pada kondisi keracunan makanan. Hal ini karena kuman atau mikroba penyebab keracunan membutuhkan waktu untuk berkembang biak dalam tubuh dan menghasilkan racun Waktu yang di butuhkan oleh mikroba untuk berkembang biak di sebut masa inkubasi. Ada mikroba yang masa inkubasinya sekitar 2 - 6 jam. Ada juga yang butuh waktu sampai beberapa hari. Semua tergantung pada jenis mikroba dan sistem kekebalan tubuh yang bersangkutan.

Meski memiliki masa inkubasi berbeda, tapi tanda dan gejala keracunan makanan hampir sama semua. Berikut adalah tanda dan gejala keracunan makanan yang paling umum:
  • Mual dan Muntah
  • Buang-buang air besar (diare)
  • Perut nyeri dan kram
  • Dehidrasi
  • Demam dan sakit kepala
  • Lemah dan tidak bertenaga
  • Sesak nafas dan sakit otot

Mikroba Penyebab Keracunan Makanan

Perawatan keracunan makanan bergantung pada jenis mikroba yang menyebabkan keracunan dan seberapa parah kondisi pasien. Setidaknya ada 4 jenis mikroba yang bisa menyebabkan keracunan makanan. Mikroba tersebut bisa berupa bakteri, virus, dan atau parasit. Berikut ini adalah beberapa nama mikroba yang menjadi penyebab keracunan makanan, yaitu:

1. Jenis Bakteri
  • Salmonela
  • Clostridium perfringens
  • Clostridium difficile
  • Campylobacter
  • Shigella
  • E.coli

2. Jenis Virus
  • Norovirus / Norwalk virus
  • Rotavirus
  • Cytomegalovirus

3. Jenis Parasit
  • Amoeba
  • Trichinella
  • Giardia
  • Tapeworms (cacing pita)


Mikroba patogen, baik yang berupa bakteri, parasit ataupun virus dapat di jumpai pada sebagian besar makanan yang kita makan. Namun proses memasak dan yang baik dan benar akan membunuh mikroba-mikroba tersebut. Namun ada kalanya kontaminasi mikroba terjadi setelah makanan di masak. Sehingga penanganan dan penyimpanan setelah makanan di masak juga mempunyai pengaruh yang signifikan. Jika ada yang bilang, makanan yang di makan mentah menjadi penyebab keracunan, tidaklah benar. Banyak juga kasus keracunan yang terjadi setelah seseorangmenyantap hidangan yang sudah di masak atau juga karena minuman yang terkontaminasi. Intinya, harus selalu hati-hati saat menyantap makanan.

Cara Mencegah Keracunan Makanan

Yang paling utama adalah tidak memakan makanan secara sembarangan dan sembrono. Lebih baik memasak sendiri makanan di rumah daripada makan makanan dari luar. Karena kalau kita masak sendiri, kita akan tahu betul kualitas dan kebersihan bahan pangan yang akan kita masak. Dengan cara memasak yang baik dan benar, maka kemungkinan mengalami keracunan makanan bisa di cegah. 

Berikut ini adalah beberapa cara mencegah keracunan makanan
  • Pisahkan bahan pangan untuk mencegah kontaminasi antar sesama, terutama daging mentah.
  • Simpan bahan pangan di ruang / mesin pendingin untuk memcegah perkembangbiakan mikroba berbahaya
  • Masak makanan dengan baik dan benar baik dari segi suhu pemanasan dan waktunya. 
  • Besihkan alat dapur, tempat masak dan tempat penyimpanan bahan pangan untuk mencegah kontaminasi kimroba berbahaya.
  • Cuci tangan secara teratur sebelum makan atau sebelum menyentuh makanan atau sebelum menyentuh mulut atau setelah menyentuh daging mentah, karena daging mentah adalah media yang paling di sukai mikroba untuk tumbuh dan berkembang biak.

Cara Menanggulangi / Mengatasi Keracunan Makanan

Begitu simptom keracunan makanan muncul dan tanda gejala terlihat cengan jelas, segera larikan korban ke rumah sakit atau faskes (fasilita kesehatan ) terdekat untuk mencegah hal-hal yang tidak di inginkan. Karena apapun penyebabnya, keracunan makanan bisa menyebabkan kematian. 

Tapi jika jauh dari faskes, dan hanya bisa di rawat di rumah, makan pastikan korban mendapat asupan cairan untuk mencegah dehidrasi akibat muntah-muntah dan buang air besar. Oralit dan minuman olahraga yang banyak mengandung elektrolit (Pocari Sweat, Gatorade) akan sangat membantu. Juss buah dan air kelapa juga bisa menjadi alternatif yang bisa menolong. yang terpenting adalah istirahat yang cukup.

Keracunan makanan bisa berlangsung selama 24 - 48 jam dan bisa sembuh dengan sendirinya tanpa obat-obatan khusus. Tapi jika kondisi bertambah parah, apalagi ada tanda-tanda dehidrasi, seperti lemas, pusing, mulut kering makan perawatan medis harus di berikan. 
Bagikan :
0 Comments for "Keracunan Makanan: Penyebab dan cara mengatasinya."
Loading...
Loading...
Back To Top